Jalur Migrasi Raptor Migran Asia di Bali

JALUR MIGRASI RAPTOR MIGRAN ASIA DI BALI 

M Jeri Imansyah*, Oni PB, Sudaryanto

contact : mjimansyah@yahoo.co.id

MATERI DAN METODE

Lokasi Pengamatan

Lokasi pengamatan meliputi daerah-daerah yang diperkirakan menjadi jalur migrasi, mulai dari ketinggian laut (> 0 m), hingga pengunungan (± 1500 m). Enam titik di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), dan masing-masing satu titik di Jatiluwih, Bedugul, Tamblingan, Uluwatu, Pantai Lebih, Nusa Penida, Kintamani, Besakih, Seraya, dan Tenganan. Pemilihan berdasar penilaian secara cepat dari data sekunder dan informasi anekdotikal mengenai potensi lokasi-lokasi tersebut sebagai jalur migrasi raptor migran di Bali. Waktu pengamatan dilakukan selama bulan Oktober 2002, mulai pukul 7-17 wita. Pengamatan ini dibatasi hanya untuk mendata lokasi-lokasi yang menjadi jalur migrasi dan tempat hinggap raptor migran di Bali.

HASIL dan DISKUSI

Sebanyak 6 jenis Raptor Migran di Bali yang teridentifikasi selama periode pengamatan Oktober 2002 (Tabel 2). Jenis yang paling banyak teramati adalah Accipiter soloensis sebanyak 1567 individu yang tercatat di 7 lokasi pengamatan. Sedangkan yang paling sedikit teramati adalah Buteo buteo, sebanyak 5 individu saja yang teramati di 3 lokasi pengamatan. Sedangkan jenis raptor migran yang hanya teramati di satu lokasi adalah Accipiter trivirgatus dan Falco severus, hanya teramati di Jatiluwih. 

Tabel 1. Jenis dan jumlah raptor migran yang tercatat di Bali

Lokasi Accipiter soloensis Accipiter gularis Accipiter sp Accipiter trivirgatus Pernis ptylorhyncus Buteo buteo Falco peregrinus Unidentified
TNBB 618 38 122 0 57 1 0 220
Jatiluwih 372 0 11 22 0 0 13 36
Bedugul 3 0 0 0 0 2 0 0
Kintamani 194 1 0 0 14 0 0 2
Besakih 297 3 0 0 9 2 0 0
Seraya 76 2 97 0 0 0 0 286
Tenganan 7 0 10 0 0 0 0 56

Jalur Migrasi Raptor Migran di Bali

Sebanyak ± 2.571 individu tercatat melintas TNBB. Sementara tahun 2001 tercatat sebanyak ± 5.450 individu. Perbedaan jumlah ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan masa migrasi. Pada 2001 pengamatan bertepatan dengan masa puncak migrasi, hal ini juga dinyatakan oleh Wedana (komunikasi pribadi, 2001) yang melihat ribuan raptor migran dalam satu kali pengamatan di lokasi yang sama beberapa hari setelah pengamatan yang kami lakukan. Sedangkan pengamatan 2002 bertepatan dengan masa sebelum puncak migrasi. Hal ini didukung oleh Rachman (komunikasi pribadi, 2002) yang menyatakan bahwa terlihat ribuan burung migran melintas kawasan Puncak satu minggu setelah pengamatan yang kami lakukan. Pengamatan sebelumnya di TNBB mencatat 11.000 individu dalam 32 hari (Ash, 1993), 5.225 individu dalam 3 hari (Mason 1994) di bulan yang sama.

Di TNBB raptor migran tercatat masuk dari arah Barat Daya, Barat, dan Barat Laut memasuki titik pengamatan Cekik1, Cekik 2, dan Tegal Bunder. kemudian tecatat meninggalkan TNBB menuju arah Timur dari titik pengamatan Teluk Trima. Diduga raptor terbang dari arah kawasan Alas Purwo (Barat Daya), gunung Raung (Barat), dan Baluran (Barat Laut). Kelompok raptor migran yang datang dari Barat dan Barat Daya dapat termati dari Cekik 1 dan Cekik 2. Sedangkan kelompok yang datang dari arah Barat Laut dapat teramati dari Cekik 2 dan Tegal Bunder. Dari Teluk Trima raptor migran in teramati meninggalkan TNBB menuju kawasan pegunungan Pupuan yang terhubung dengan kawasan Batukaru.

Namun tercatat pula raptor migran yang memasuki TNBB dari Timur Laut Teluk Trima. Kelompok ini diperkirakan berasal dari arah Baluran, namun mereka terlebih dahulu melalui kawasan Utara Gunung Prapat Agung, kemudian setelah melewati Pulau Menjangan berbelok ke arah Teluk Trima (Barat Daya). Dari Teluk Trima kelompok ini terus terbang ke arah Tenggara seperti yang lainnya.

Di Jatiluwih tercatat ± 454 individu melintas dari arah Barat dan Barat Laut titik pengamatan. Mereka terlihat datang dari balik pegunungan Batukaru, kemudian terbang melintas menuju arah Timur dan Tenggara melintasi kawasan pegunungan di dekatnya dan daerah perkebunan dan persawahan. Berdasarkan pengamatan ini  pegunungan Batukaru dinilai berpotensi menjadi daerah bertengger bagi jenis-jenis raptor migran. Karena selama pengamatan antara pukul 8-10 pagi sekitar 200-an individu tercatat melakukan terbang berputar (soaring) di atas puncak Gunung Batukaru terlebih dahulu sebelum meluncur ke arah lain. Kemudian dari Batukaru raptor migran ini terbagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok melintasi Jatiluwih kemudian terbang menuju arah Timur dan satu kelompok melintasi menuju Timur Laut, melintasi Bedugul.

Sementara di titik pengamatan Bedugul hanya teramati 5 individu raptor migran yang melintas. Burung-burung inu teramati terbang dari arah Barat menuju arah Timur Laut. Sedikitnya raptor migran yang melintasi titik pengamatan ini dimungkinkan karena titik pengamatan yang kurang tepat.

Di Kintamani teramati ± 211 individu teramati terbang dari arah Barat menuju Gunung Agung, dimana Besakih terletak di Barat Daya kaki gunung ini. Di Besakih teramati sebanyak ± 311 individu, 37 individu Accipiter soloensis diantaranya tercatat bertengger di sekitar titik pengamatan Pura Gelap pada sore hari. Bahkan 3 individu Accipiter soloensis tercatat menangkap capung dan belalang di atas ladang milik penduduk setempat. Dari hasil wawancara informal, warga setempat juga menyatakan jika mereka sering melihat kelompok besar burung alap-alap yang melintas atau pun hinggap di ladang mereka dan berburu capung atau serangga lainnya pada bulan Oktober.

Dari Besakih, raptor migran terbang dalam dua kelompok. Satu kelompok teramati terbang menuju Tenggara, ke arah hutan Tenganan berada, dan satu kelompok lainnya menuju Timur, ke arah Bukit Seraya.  Dari Bukit Seraya, rombongan migrasi sebanyak ± 461 individu ini tercatat datang dari arah Barat (Besakih). Pada pagi hari raptor migran termati terbang melintas Bukit Seraya  langsung terbang menuju Timur dan diperkirakan menuju pulau Lombok. Namun setelah siang hari raptor migran terbang dan di atas Bukit Seraya berbelok menuju Barat Daya, ke arah hutan Tenganan.

Sebanyak ± 73 individu raptor migran tercatat melintas Tenganan pada sore hari. Dari titik pengamatan Bug Bug, di Timur kaki hutan Tenganan, dapat teramati datangnya kelompok raptor migran ini dari arah Barat Laut (Besakih) melintasi hutan Tenganan menuju laut lepas di sebelah Tenggara, dimungkinkan kelompok ini menuju pulau Lombok. Sedangkan kelompok lainnya teramati datang dari arah Timur Laut (Seraya) menuju Barat Daya dan diperkirakan kelompok ini hinggap di Tenganan. Namun tidak teramati raptor migran yang hinggap di kawasn Tenganan.

Berdasar jalur migrasi yang ditempuh, maka dapat diperkirakan bahwa jalur migrasi raptor migran di Bali ada yaitu; dari TNBB menuju gunung Batukaru, kemudian dari Batukaru terpecah menjadi 2 kelompok dengan arah terbang yang berbeda. Satu kelompok menuju arah Bedugul, Kintamani, dan Besakih. Sedangkan kelompok lainnya melintasi Jatiluwih menuju Besakih. Kemudian dari Besakih jalur migrasi ini kembali tebagi dua : satu kelompok menuju Seraya dan satu kelompok lainnya menuju Tenganan. Dari Seraya pada pagi hingga siang hari, raptor migran terus terbang dan diperkirakan menuju apulau Lombok. Namun setelah pukul 12 siang, raptor migran berbelok menuju Tenganan. Sedangkan dari Tenganan mereka terbang terus melintas dan diduga menuju arah pulau Lombok. Rute migrasi tersebut ditampilkan pada Gambar 1.

jalurmigrasi1.jpg

Gambar 1. Peta jalur migrasi raptor migran di Bali. Panah menunjukkan arah terbang, nomor merepresentasikan lokasi pengamatan : 1) Taman Nasional Bali Barat, 2) Jatiluwih, 3) Bedugul, 4) Kintamani, 5) Besakih, 6) Seraya, 7) Seraya, 8) Pantai Lebih, 9) Uluwatu, 10) Nusa Penida.

Lokasi Bertengger Raptor Migran di Bali

Beberapa lokasi penting yang teridentifikasi menjadi tempat bertengger adalah TNBB, Jatiluwih, dan Besakih. Berdasarkan teramatinya raptor migran yang melakukan terbang berputar (soaring) pada pagi hari (sekitar pukul 9-10 pagi) sebelum terbang ke arah lain menjadi pertimbangan memasukkan TNBB dan Jatiluwih sebagi lokasi potensial untuk lokasi bertengger. Diperkirakan lokasi bertengger di TNBB adalah di sebelah selatan Teluk Trima di deretan pegunungan Klatakan. Sedangkan di Jatiluwih diperkirakan di sebelah utara gunung Batukaru.

Lokasi yang jelas menjadi tempat bertengger adalah Besakih. Di sekitar titik pengamatan teramati puluhan Accipiter soloensis hinggap di lembah yang ada di sebelah Tenggara. Lembah tersebut berupa hutan terbuka dengan kondisi hutan yang masih cukup baik meski di sekitar lembah tersebut punggungan bukitnya telah dan sedang dikonversi menjadi ladang penduduk setempat. Beberapa penduduk setempat juga menyatakan bahwa mereka sering melihat kelompok besar burung raptor hinggap di sekitar lokasi tersebut (di ladang, ataupun hutan).

Ancaman dan Konservasi

Seperti halnya raptor jenis lain, termasuk juga raptor migran, di sepanjang jalur migrasinya di Bali jenis-jenis raptor migran yang terbang jauh dari wilayah Asia Timur in menghadapi ancaman yang cukup serius. Perubahan lahan menjadi kawasan pemukiman atau perkebunan dan ladang, mengurangi potensi tempat mereka bertengger dan mencari makan. Selain konversi habitat, ancaman lainnya adalah perburuan. Pada saat pengamatan di Pura Gelap, Besakih, tercatat 3 pemuda membawa senapan angin hendak berburu burung di kawasan tersebut. Padahal, desa adat setempat memberlakukan larangan melakukan perburuan satwa. Namun mereka tidak mempedulikan awig-awig yang seharusnya ditaati oleh seluruh penduduk desa tersebut.

Kawasan Hutan Gunung Agung sendiri dikelola oleh desa adat Keliang, Kecamatan rendang, Kabupaten Karang Asem. Kawasan ini belum memiliki status perlindungan yang ditetapkan berdasar kriteria Departemen Kehutanan. Namun desa adat setempat memiliki aturan (awig-awig) yang melarang perburuan di sekitar kawasan hutan yang disucikan tersebut.

~ oleh ekologi pada April, 3, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: