KERAGAMAN HAYATI HARAPAN RAINFOREST 2009: KERAGAMAN JENIS AMFIBI DAN REPTIL DI KAWASAN HARAPAN RAINFOREST

•Maret, 3, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

KERAGAMAN HAYATI HARAPAN RAINFOREST 2009:

KERAGAMAN JENIS AMFIBI DAN REPTIL DI KAWASAN HARAPAN RAINFOREST

M Jeri Imansyah (m.jeri@harapanrainforest.org)

Ringkasan

Hutan hujan dataran rendah Sumatra merupakan habitat yang kaya akan keragaman biologinya, sekaligus juga merupakan habitat yang sangat terancam di muka bumi ini. Dari sekitar 16 juta hektar hutan Sumatra pada tahun 1900, kini hanya tersisa 500,000 ha saja. Harapan Rainforest, merupakan serpihan hutan hujan tropis di Sumatra yang tersisa, meliputi kawasan seluas 98.555 ha hutan di perbatasan provinsi Jambi dan Sumatra Selatan baik yang masih utuh maupun yang telah mengalami pembalakan. Sekitar 36% dari kawasan ini merupakan hutan dengan tipe hutan sekunder tinggi, 15%  hutan sekunder sedang, 41% merupakan hutan sekunder rendah, dan 8% adalah lahan terbuka. Saat ini kawasan Hutan Harapan Harapan Rainforest dalam pengelolaan Unit Majemen Harapan Rainforest untuk kegiatan restorasi ekosistem dengan tujuan mengembalikan kepada keadaan menjadi seperti semula.

Survey amfibi dan reptil di Harapan Rainforest dilakukan setiap bulan sepanjang tahun 2009, kecuali bulan Juli hingga September menggunakan tiga metode survey yang biasa digunakan, yaitu  pencarian secara acak (opportunistic searching), metode transek (1.4 km) dan plot (20 m X 20 m). Sebelumnya Mistar (2003) menggunakan metode Visual Encounter Survey-Night Stream, penulusuran transek sepanjang 1.5 km dan pencarian secara acak.

Dengan menggabungkan hasil survey pada tahun 2003 dan 2009, tercatat  29 jenis amfibi dan 45 jenis reptiledi Harapan Rainforest, termasuk 5 jenis Amfibi dan 15 jenis reptile yang baru tercatat (Tabel 1). Jenis amfibi yang paling sering dijumpai adalah Fejerfarya cancricova, Fejerfarya limnocharis, Hylarana nicobariensis, dan Racophorus appendiculatus. Sedangkan jenis reptil yang paling umum dijumpai adalah Gecko smithii, Mabuya multifasciata dan Varanus salvator. Selain itu, di daerah camp utama Harapan Rainforest hingga daerah BPDAS banyak dijumpai (Naja sumatrana, Ophiophagus hannah, dan Pyton reticulates.

Dari keseluruhan jenis-jenis amfibi dan reptil tersebut berdasarkan kategori keterancampunahan menurut IUCN terdapat empat jenis amfibi yang dikategorikan Mendekati Terancam Punah (Near Threatened), yaitu Pelophrine signata, Limnonectes blythii, Limnonectes malesiana, dan Occidozyga baluensis, dan satu jenis reptile yang dikategorikan Terancam Punah (Endangered), yaitu Heosemis spinosa (Tabel 1). Enam jenis reptil juga termasuk dalam Appendix II CITES, yaitu Pyton reticulatus, Ophiophagus Hannah, Heosemys spinosa, Varanus dumerili, dan Varanus salvator (Tabel 1) . Sedangkan untuk amfibi tidak terdapat satu jenis pun yang masuk appendix CITES. Dari sisi perlindungan hukum berdasar PP no 7 tahun 1999, tidak satu jenis pun baik amfibi maupun  reptile yang terdapat di dalam kawasan Harapan Rainforest terdaftar dalam lampiran PP tersebut.

Ancaman terhadap jenis-jenis reptile dan amfibi di dalam kawasan Harapan Rainforest adalah masih terjadinya aktivitias illegal logging dalam skala kecil di sepanjang sungai Kapas dan SPAS, ancaman ini terutama terjadi saat musim hujan berlangsung. Meski terjadi secara sporadis dan kecil-kecilan, namun karena sensitifitas amfibi dan reptile terhadap perubahan sekecil apapun terhadap lingkungan, hal ini dapat menjadi ancaman serius bagi konservasi amfibi dan reptil di Harapan Rainforest. Selama survey tidak ditemukan adanya tanda-tanda pemanenan jenis-jenis amfibi dan reptile.

Daftar Jenis Amfibi

Phrynoidis  asper

Ingerophrynus divergens

Ingerophrynus  quadriporcatus

Duttaphrynus melanostictus

Ingerophrynus parvus

Pelophryne signata

Kalophrynus pleurostigma

Microhyla palmipes

Kaloula baleata

Fejervarya cancrivora

Fejervarya limnocharis

Limnonectes blythii

Limnonectes malesiana

Occidozyga baluensis

Occidozyga sumatrana

Occidozyga laevis

Hylarana chalconota

Hylarana erythraea

Hylarana glandulosa

Odorana hosii

Hylarana nicobariensis

Hylarana picturata

Hylarana signata

Hylarana siberu

Hylarana baramica

Polypedates colletii

Polypedates leucomystax

Polypedates macrotis

Rachoporus appendiculatus

Daftar Jenis Reptil

Pyton reticulatus

Cylindrophis ruffus

Achrochordus javanicus

Naja Sumatrana

Ophiophagus hannah

Xenochrophis trianguligera

Xenodermus javanicus

Olygodon dorsalis

Oligodon signatus

Psammodynastes pictus

Lycodon subcintus

Chryopelea ornata

Dryophiops rubescence

Ahaetulla mycterizans

Ahaetulla prasina

Dendrelaphis caudolineatus

Dendrelaphis striatus

Sibynophis melanochephalus

Boiga jaspidea

Boiga dendrophila

Maticora bivirgata

Macrophistodon rhodomelas

Hemiydactylus frenatus

Cyrtodactylus quadrilineatus

Cyrtodactylus quadrivirgatus

Cyrtodactylus lateralis

Gecko smithi

Takydromus sexlineatus

Mabuya multifasciata

Mabuya macularia

Lygosoma bowringii

Lipinia vitigera

Spenomorphus stellatus

Gonocephalus chamaleontinus

Gonocephalus sumatranus

Bronchocela cristatella

Aphaniotus fuscus

Draco melanopogon

Draco volans

Heosemys spinosa

Heosemys grandis

Cyclemis dentata

Typhlops sp

Varanus dumerili

Varanus salvator

Phrynoidis  asper

Ingerophrynus divergens

Ingerophrynus  quadriporcatus

Duttaphrynus melanostictus

Ingerophrynus parvus

Pelophryne signata

Kalophrynus pleurostigma

Microhyla palmipes

Kaloula baleata

Fejervarya cancrivora

Fejervarya limnocharis

Limnonectes blythii

Limnonectes malesiana

Occidozyga baluensis

Occidozyga sumatrana

Occidozyga laevis

Hylarana chalconota

Hylarana erythraea

Hylarana glandulosa

Odorana hosii

Hylarana nicobariensis

Hylarana picturata

Hylarana signata

Hylarana siberu

Hylarana baramica

Polypedates colletii

Polypedates leucomystax

Polypedates macrotis

Rachoporus appendiculatus

Laporan Singkat Hasil survey populasi biawak Komodo dan Populasi mangsa Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Juni – Juli 2009

•Agustus, 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Laporan Singkat Hasil survey populasi biawak Komodo dan Populasi mangsa Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Juni – Juli 2009
Survey populasi biawak komodo dan mangsanya di dalam Kawasan Cagar Alam Wae Wuul Flores Barat telah dilakukan sejak tanggal 22 Juni hingga 19 Juli 2009. Metode lapangan yang digunakan untuk mendapatkan perkiraan populasi Biawak Komodo di Cagar Alam Wae Wuul adalah dengan menangkap menandai melepas dan menangkap kembali (Capture Mark Release Recapture). Metode ini dilakukan dengan menempatkan 26 perangkap yang disebar merata di dalam kawasan Cagar Alam Wae Wuul, setelah tertangkap, Biawak Komodo akan diukur dan ditandai, setelah itu, Biawak Komodo yang sudah ditandai akan dilepas kembali. Sementara itu, untuk mendapatkan nilai kepadatan mangsa Biawak Komodo (terutama Rusa), metode lapangan yang digunakan adalah metode penghitungan kotoran (pellet group) dalam setiap 30 titik/plot berdiameter 2 meter yang terletak di setiap 10 meter pada garis transek sepanjang 30 meter, dengan jumlah total garis transek sebanyak 40. Selain itu, untuk mendapatkan perkiraan nilai populasi mangsa Biawak Komodo, dilakukan juga penghitungan langsung dengan menggunakan metode jarak sepanjang garis transek.
Selama 22 hari survey populasi Biawak Komodo, diperoleh 17 ekor Biawak Komodo yang tertangkap, ditandai dan dilepas kembali. Dari 17 ekor Biawak Komodo yang tertangkap, hampir sebagian besar berukuran di bawah 4 Kg, dengan hanya satu ekor berukuran yang paling besar yaitu 19 Kg. Selama survey tidak pernah terlihat Biawak Komodo yang mempunyai ukuran lebih dari 20 Kg. Sementara itu, jumlah penghitungan kotoran rusa pada plot sepanjang garis transek yang berjumlah 40, menunjukan nilai yang sangat kecil (rata-rata dibawah 1 grup pelet pertransek), nilai rendah juga didapat dengan menggunakan metode penghitungan langsung sepanjang garis transek, yaitu hanya terdapat lima perjumpaan.
Berdasarkan data lapangan yang belum lama diperoleh, Populasi Biawak Komodo di Cagar Alam Wae Wuul berada dalam kondisi yang rentan untuk punah, selain terdapat penurunan yang signifikan sejak survey yang dilakukan tahun 1991, 2000 dan tahun lalu (Nopember 2008), tidak terdapatnya ukuran dewasa akan mengkhawatirkan untuk rekrutmen individu baru dalam populasi. Rendahnya ukuran populasi di Cagar Alam Wae Wuul juga berkaitan dengan rendahnya jumlah Rusa yang merupakan mangsa utama Biawak Komodo. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan usaha-usaha untuk pengelolaan habitat agar populasi Komodo dan Rusa kembali meningkat. selain itu usaha-usaha pengamanan juga perlu dilakukan beriringan dengan usaha pengelolaan habitat untuk mencegah terjadinya ancaman yang mengganggu proses ekologis dalam kawasan Cagar Alam Wae Wuul, seperti pencegahan kebakaran hutan.

Populasi Komodo di Wae Wuul menurun drastis

•Agustus, 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kegiatan survey populasi biawak Komodo (Varanus komodoensis) dan mangsanya yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (Balai Besar KSDA NTT) bekerjasama dengan Komodo Survival Program (KSP) di Cagar Alam Wae Wuul, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, antara 22 Juni hingga 19 Juli 2009, sebagai implementasi naskah Perjanjian Kerjasama antara BALAI BESAR KSDA NTT NTT dan KSP tentang Penelitian dan Pemantauan Populasi Biawak Komodo dan Keanekaragaman Hayati Beserta Habitatnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang ditandatangani pada tanggal 3 Maret 2008, dengan ini kami menyampaikan laporan sementara sebagai informasi mengenai keadaan terkini populasi biawak Komodo di CA Wae Wuul.
Dari hasil survey menggunakan metode penangkapan dan penandaan selama 22 hari dengan menggunakan 26 titik perangkap dan pencarian secara aktif meliputi kawasan seluas 14.484 ha (14.8 km2), hanya 17 individu yang terpantau di CA Wae Wuul. Sementara survey populasi mangsa utama biawak Komodo yang diukur menggunakan metode transek plot menunjukkan indeks kepadatan populasi Rusa Timor (Cervus timorensis) sebesar 0.48/transect.
Survey yang dilakukan pada tahun 1991 oleh PHKA menemukan 66 Komodo di Wae wuul dan area sekitarnya, sedangkan survey pada tahun 2000 oleh Ciofi dan De Boer bersama dengan Balai Besar KSDA NTT II, hanya 19 Komodo saja yang tertangkap, dengan kepadatan populasi 10 kali lebih rendah dibandingkan yang tertangkap di Taman Nasional Komodo. Pada survey yang dilakukan oleh BALAI BESAR KSDA NTT NTT dan KSP tahun 2008, hanya 10 kali perjumpaan saja 6 titik penempatan umpan gantung dari 16 lokasi tempat pengumpanan di Cagar Alam Wae Wuul. Sedangkan survey pada 2009 hanya 17 individu yang tertangkap. Indeks kepadatan Rusa Timor pada tahun 2008 tercatat 0.48/transek sedangkan pada survey tahun 2009 diperoleh nilai kepadatan dibawah 1/km2, menunjukkan adanya penurunan kepadatan populasi mangsa.
Berdasarkan hasil survey tersebut diatas, sangat jelas bahwa populasi biawak Komodo di Wae Wuul sangat terancam. Faktanya, populasi Komodo disana telah mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu 18 tahun. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kepadatan Rusa Timor sebagai mangsa biawak Komodo dan tingginya tekanan aktivitas manusia seperti perburuan Rusa dan pembakaran padang rumput di sekitar dan di dalam kawasan.
Berdasar fakta tersebut, sehubungan dengan izin penangkapan biawak Komodo yang Bapak keluarkan melalui SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang izin penangkapan 10 ekor biawak Komodo dari habitat aslinya di CA Wae Wuul, yang secara administratif termasuk kedalam wilayah Desa Macan Tanggar dan Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, dengan ini kami menyarankan agar Bapak dapat mempertimbangkan pembatalan SK.384/Menhut-II/2009. Penangkapan 10 individu biawak Komodo di CA Wae Wuul akan sangat mempengaruhi keberadaan populasi tersebut. Kami khawatir penangkapan tersebut akan menyebabkan kepunahan biawak Komodo di Flores, khususnya di CA Wae Wuul yang mewakili keragaman genetik terpisah dari Taman Nasional Komodo.
Hingga saat ini, berbagai Kebun binatang di Indonesia telah bekerja dengan baik dalam membiakkan Komodo di penangkaran dan menurut pusat penelitian biologi LIPI, Komodo asal flores terdapat di tiga kebun binatang di Jawa: Ragunan (44 ekor), Gembira Loka (26 ekor), Surabaya (11 ekor). Alternatif yang mungkin dilakukan oleh kebun binatang Indonesia (dan luar negeri) yang lain untuk menambah jumlah koleksi Komodo adalah dengan mengandalkan Komodo yang ada dari kebun binatang – kebun binatang di Indonesia yang telah berhasil membiakkan Komodo. Populasi Komodo dalam penangkaran ini cukup mewakili secara genetis dan merupakan sumber yang baik untuk program penangkaran Komodo.
Oleh karena itu, kami menyarankan rencana perlindungan khusus untuk populasi Komodo yang tersisa di Cagar Alam Wae Wuul. EAZA akan melanjutkan membantu menyediakan dana untuk kegiatan perlindungan komodo yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA NTT dan KSP.

Resiko ancaman kepunahan biawak Komodo di CA Wae Wuul

•Juli, 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Resiko ancaman kepunahan biawak Komodo di CA Wae Wuul

Pada populasi kecil, dibawah 200 individu (Lande et al 2000), seperti halnya biawak Komodo di Flores – termasuk CA Wae Wuul, resiko kepunahan menjadi sangat tinggi (Purvis et al, 2000) karena :

  1. Pada populasi kecil potensi untuk berkembang biak sangat rendah akibat sedikitnya dan terpencarnya individu yang dapat bereproduksi. Pada populasi biawak Komodo di CA Wae Wuul, potensi untuk terjadinya perkawinan sangatlah rendah akibat terpencarnya individu-individu (lihat peta sebaran komodo di Wae Wuul).
  2. Pada populasi kecil yang memiliki masa “life history” lambat (usia matang seksual untuk kawin dan  masa mengerami telur yang lama) memiliki tingkat kepunahan tinggi karena resiko kematian lebih tinggi dari pada potensi rekrutmen. Biawak Komodo diketahui memiliki pola life history yang lambat, di mana usia matang seksualnya pada usia 5 tahun dan mereka bertelur tidak setiap tahun. Selain itu di Wae Wuul hingga saat ini tidak ditemukan lokasi yang berpotensi digunakan untuk bersarang.
  3. Populasi kecil yang berada pada puncak rantai makanan, seperti halnya biawak Komodo, sangat rentan terhadap gangguan yang terjadi pada mangsanya. Berdasar survey KSP pada 2008 dan 2009, Mangsa biawak Komodo di CA Wae Wuul, khususnya rusa,  sangatlah rendah (grafik) dibandingkan dengan kondisi mangsa di TN Komodo di mana populasi biawak Komodo di sana relative lebih aman.
  4. Populasi kecil pada jenis-jenis yang memiliki wilayah jelajah sangat luas memiliki resiko kepunahan sangat tinggi karena dampak gangguan yang terjadi di dalam wilayah jelajahnya, seperti kehilangan dan gangguan habitat, perburuan, serta kompetisi dengan jenis lain, akan sangat berpengaruh. Biawak Komodo dewasa diketahui memilki luasan wilayah jelajah 2.78-5.4 km2, sementara di wilayah sekitar CA Wae Wuul sangat rawan terjadi kebakaran hutan, padang rumput, konversi habitat, perburuan rusa, bahkan tindakan manusia yang menganggap biawak Komodo sebagai ancaman baginya, yang secara langsung sangat berpengaruh terhadap tingginya resiko kepunahan biasak Komodo di CA Wae Wuul.

Terlepas dari argument di atas, hingga saat ini populasi biawak Komodo di Flores termasuk di CA Wae Wuul belum mendapat perhatian yang cukup baik dari sisi kajian ilmiah maupun dari sisi pengelolaan (monitoring berkala, pengamanan, atau pembinaan habitat), sehingga masih diperlukan kajian lebih mendalam untuk dapat menentukan layak tidaknya pengambilan individu dari populasi ini. Kami menyarankan adanya rencana pemantauan dan perlindungan khusus untuk populasi Komodo yang tersisa di Cagar Alam Wae Wuul.

baby sun bear

•Juni, 29, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Harapan Rainforest blog – 8th June 2009

I have just returned from this month’s mammal surveys in the western part of Harapan Rainforest. A team of 12 staff from the Research and Conservation team walked over 60km of forest transects, recording any mammal signs found along the route. Mammal species are identified using signs, such as paw prints, faeces, claw marks on the trees and mammal feeding signs and this information is then used to build up a picture of their distribution in the site. During one of these transects we heard a loud rustling in the undergrowth and saw a large adult Malayan Sun Bear running off into the forest. Shortly after a young cub came sliding down the tree directly in front of us, allowing us beautiful views of this stunning animal. Normally a solitary species, two sun bears are only usually seen together when an adult female is with her offspring and a cub will usually stay with its mother for up to two and a half years. The Malayan Sun Bear is the smallest of the world’s bear species. Once widespread throughout Asia, they are now patchily distributed across their former range due to the large scale removal of their forest habitat and poaching for the wildlife trade. Harapan Rainforest provides an important protected area for this threatened species and has recently received funding from the Bear Conservation Fund of the International Association of Bear Research and Management to assess the population size of this species within the site and to look at their preferences for different habitat types.

Jeri Imansyah, Harapan Rainforest Biodiversity Officer
more information can be obtained from http://harapanrainforest.org

CV M Jeri Imansyah, updated August 2009

•Mei, 12, 2009 • 2 Komentar

CURRICULUM VITAE

M Jeri Imansyah

Born: Sukabumi, 21 February 1977

Address: Jl Karamat no 82, Sukabumi 43122, West Java, Indonesia

Mobile phone: +62 8563903967, E-mail: mjimansyah@harapanrainforest.org

Professional experience

Dec 2008 – Present, Harapan Rainforest, Jambi, Indonesia

Biodiversity Officer

Responsibilities include: biodiversity surveys of a wide range of species within Harapan Rainforest (HRF) concession, Sumatra, including mammals (e.g. tigers, sun bears, elephants), birds, and reptiles and amphibians using various methods, such as occupancy surveys, line transects and camera traps; training staff of HRF and assisting the project’s Forestry Division in developing methods on habitat assessments, phenology and forest restoration; and developing research networks with relevant key partners. My position also requires compiling reports, translation, and database and equipment management.

Mar 2007 – Dec. 2008, Komodo Survival Program, Denpasar, Indonesia

Program Coordinator

Responsibilities included designing and implementing activities, developing monitoring protocols for Komodo Dragon and terrestrial wildlife, developing proposals and budgets of related activities, managing government and stakeholder relationships, and overseeing the operational / managerial aspects of the programs.

June 2002 – July 2007, Center for Conservation and Research of Endangered Species, San Diego, USA      

Research Officer / Assistant to Project Leader

Responsibilities included assisting the project leader in organizing and conducting programs for field research on the Komodo Dragon and other terrestrial wildlife including mammals and birds in the Komodo National Park, Indonesia. The position required involvement in capacity building and education, report compilation and translation, database and equipment management, as well as liaising with other governmental, NGO, and broadcaster institutions. In the absence of Project Leader, I was also in charge of the operational/managerial aspects of the project.

Nov. 2001 – May 2002, Komodo International Research Center, Denpasar, Indonesia

Research Fellow / Assistant to Project Leader

Responsibilities included organizing and conducting activities for field research on Komodo Dragon hatchlings in Komodo National Park, Indonesia, and report writing.

Education

Nov 2003 – Dec 2006, Master of Science (MSc) in Zoology / Biological Conservation by thesis (GPA 3.54)

  • School of Environmental and Natural Resource Sciences, National University of Malaysia (UKM), Malaysia.
  • Thesis titled “Spatial Ecology of Hatchling and Juvenile Komodo dragons (Varanus komodoensis) in the Komodo National Park, Indonesia”.
  • Full scholarship & research grants (USD 18,225) provided by the ZSSD and AZA.

Aug 1995 – Nov 2001, Bachelor of Science (SSi) in Biology by thesis

  • Department of Biology, Udayana University, Indonesia.
  • Undergraduate thesis titled “Daily Movement and Activity of Bali Starling (Leucopsar rothschildi) in the Bali Barat National Park” (in Bahasa Indonesia).

Professional Development

  • Komodo Dragon Internship                                                                                                                                           May 2006

Melbourne Zoo, Australia

  • GIS and its application for Nature Resource Management                                                                     Feb 2003

BIOTROP Training and Information Center, Bogor, Indonesia

  • Bat Research and Conservation Training                                                                                                May 2003

Malaysian Bat Conservation & Research Unit and Earthwatch Institute Australia

Additional information

  • Mark-Recapture: estimating population, annual movement patterns, and annual growth of Komodo dragons in Komodo National Park – CAPTURE.
  • Radiotelemetry and GPS collar: describing patterns in movement, home ranges, and habitat use of Komodo dragons in Komodo National Park – ArcView 3.2 (ESRI), Animal Movement Program (Hooge et al., 1997), Fractal (Nams, 2004).
  • Transect plots: estimating density indices of Timor deer and Water Buffalo in Komodo National Park – SPSS.
  • Parallel transects: monitoring nesting activity of Komodo Dragon, Yellow crested Cockatoo and Orange-footed Scrub Fowl in Komodo National Park.
  • Vantage points: monitoring population and status of Yellow crested Cockatoo in the Komodo National Park.
  • Distance method: estimating density of Timor deer and Water Buffalo in Komodo National Park.

Research and Conservation Grants

  • American Zoo Association                                                                                                                                                      2008

Grant (USD 14,000) for research and conservation project on Komodo Dragon in Komodo National Park

  • European Aquarium and Zoological Association                                                                                               2007

Grant (Euro 22,000) for research and conservation project on Komodo Dragon in Wae Wuul Nature Reserve, Flores, Indonesia

  • American Zoo Association                                                                                                                                                      2005

Research grant (USD 3,225) to conduct research on spatial ecology of immature Komodo Dragon in the Komodo National Park

  • Oriental Bird Club, England                                                                                                                                  2005

Referees

Dr. Tim S. Jessop

-    Research Fellow (Honorary), Dept. of Zoology, University of Melbourne, Melbourne, Australia.

-    Contact: ph +61 3 92859387, 92859300, fax +61 3 92859350, email tjessop@unimelb.edu.au

Dr. John A Phillips

-    Deputy Director, Center for Conservation and Research of Endangered Species, ZSSD, USA.

-    Contact: ph +1 61 92311515, email jphillips@sandiegozoo.org.

Dr. David C Lee

-    Head of Research and Conservation Division, Harapan Rainforest, Indonesia

-    Contact: ph +62 815 11607352, email david.lee@harapanrainforest.org.

Publications and Reports

Jessop, T.J, Forsyth, D.M., Imansyah, J., Purwandana, D. and Seno, A. (in prep.). Use of faecal counts to assess distribution and relative density of Macaques and Civets in Komodo National Park, Indonesia. Submitted to Zoological Research.

Jessop, T.S., Ciofi, C., Imansyah, M.J., Forsyth, D. Madsen, T., Shine, R., Purwandana, D., Ariefiandy, A., Rudiharto, Solomon Y. and Phillips, J.A. (in prep.). Identifying key process  influencing the ecology, evolution and conservation of the Komodo dragons.

Imansyah, M.J., Jessop, T.S., Sumner, J., Purwandana, D., Ariefiandy, A. and Seno, A. 2009. Distribution, seasonal use, and predation of incubation mounds of Orange-footed Scrubfowl on Komodo Island, Indonesia. Journal of Field Ornithology 80(2): 119-126

Imansyah, M.J., Purwandana, D. and Jessop T.S. 2008. First record on Flores hanging parrot Loriculus flosculus in Rinca Island, Komodo National Park. Forktail 24.

Jessop, T.J., Imansyah, M.J., Purwandana, D., Ariefiandy, A. and Ovat, D.S. 2008. Incidence of Fish Hook Ingestion by Komodo dragons. Biawak 2(3): 121-123.

Jessop, T. and Imansyah, M. J. 2008. Varanus komodoensis parasites. Herpetological Review 39 (1): 96-97.

Imansyah, M.J, Jessop T.S., Ciofi, C. and Akbar, Z. 2008. Ontogenetic differences in the spatial ecology of immature Komodo Dragons. Journal of Zoology 274(2): 107-115.

Jessop, T.S., Madsen, T., Ciofi, C., Imansyah, M.J., Purwandana, D., Rudiharto, H., Arifiandy, A. and Phillips, J.A. 2007. Island differences in population size structure and catch per unit effort and their conservation implications for Komodo dragons. Biological Conservation 135: 247-255.

Imansyah, M.J., Purwandana, D., Jessop T.S., Ciofi, C., Akbar, Z., Ariefiandy, A. and Phillips., J.A (2007). Pergerakan dan wilayah aktivitas pada Biawak Komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Komodo. Proceeding of National Seminar on Herpetology 2007. Bogor University of Agriculture. (in Bahasa Indonesia).

Jessop, T.S., Ciofi, C., Imansyah, M.J., Purwandana, D., Ariefiandy, A. and Rudiharto, H. 2007. Biawak Komodo di pulau kecil lebih rentan. Warta Herpetofauna Vol I (1): 2-5, Agustus 2007. (in Bahasa Indonesia).

Imansyah, M.J. 2006. Spatial ecology of hatchling and juvenile Komodo dragons in the Komodo National Park, Indonesia. MSc thesis. University Kebangsaan Malaysia, Bangi. 81 pp.

Imansyah, M.J., Anggoro, D.G., Yangpatra, N., Hidayat, A. and Benu, Y.J. 2005. Sebaran dan karakteristik pohon sarang kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea parvula) di Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo. Report from the Zoological Society of San Diego, Balai Taman Nasional Komodo and The Nature Conservancy. Labuan Bajo, Flores. 30 pp. (in Bahasa Indonesia).

Jessop, T.S., Forsyth, D.M., Purwandana, D., Imansyah, J., Opat, D.S. and McDonald-Madden, E. 2005. Monitoring the ungulate prey of Komodo dragons (Varanus komodoensis) using faecal counts. Report from the Zoological Society of San Diego, Balai Taman Nasional Komodo and The Nature Conservancy. Labuan Bajo, Flores, 26pp.

Jessop, T.S., Purwandana, D., Imansyah, M.J., Rudiharto, H. and Ciofi, C. 2005. Indirect evidence for prey limitating factor impacting the population of Komodo dragons on Gili Motang. Unpublished research report for the Zoological Society of London.

Jessop T.S., Sumner J., Rudiharto H., Purwandana D., Imansyah M.J. and Phillips, J.A. 2004. Distribution, use and selection of nest type by Komodo Dragons. Biological Conservation 117: 463 – 470.

Herpetofauna of Harapan Rainforest

•Mei, 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Reptiles and Amphibians of Harapan Rainforest

contact m.jeri@harapanrainforest.org

hm…. been a long time not updating this blog…. since i moved to Harapan rainforest (harapanrainforest.org) in Jambi, Sumatra to work as Biodiversity Officer around December 2008. Iam working with many species now, including reptiles and amphibis, mammals, and birds. it is exciting as new experience, although not as exciting as  hunting komodos hehehehe…

anyway, up to day, i have recorded 8 reptiles and 2 amphibians, new to Harapan Rainforest just with opportunistic searching, although i undertook VES for few times. i believe this records will be increasing as more intens survey will be conducted soon.

here is the list of the reptiles and amfibians in harapan. species with (*) indicating new species for 2009 that i recorded.

Phrynoidis asper
Ingerophrynus divergens
Ingerophrynus quadriporcatus
Duttaphrynus melanostictus*
Ingerophrynus parvus*
Pelophryne signata
Kalophrynus pleurostigma
Microhyla palmipes
Fejervarya cancrivora
Fejervarya limnocharis
Limnonectes blythii
Limnonectes malesiana
Occidozyga baluensis
Occidozyga sumatrana
Hylarana chalconota
Hylarana erythraea
Hylarana glandulosa
Odorana hosii
Hylarana nicobariensis
Hylarana picturata
Hylarana signata
Hylarana siberu
Polypedates colletii
Polypedates leucomystax
Polypedates macrotis
Rachoporus appendiculatus
Pyton reticulatus
Cylindrophis ruffus
Achrochordus javanicus
Naja Sumatrana
Ophiophagus hannah
Xenochrophis trianguligera
Xenodermus javanicus
Olygodon dorsalis*
Psammodynastes pictus
Dryophiops rubescence*
Ahaetulla prasina
Dendrelaphis caudolineatus*
Dendrelaphis striatus
Boiga jaspidea
Boiga dendrophila
Maticora bivirgata
Hemiydactylus frenatus
Cyrtodactylus quadrilineatus
Cyrtodactylus quadrivirgatus
Cyrtodactylus lateralis
Gecko smithi
Takydromus sexlineatus
Mabuya multifasciata
Mabuya macularia*
Lygosoma bowringii*
Lipinia vitigera*
Spenomorphus stellatus
Gonocephalus chamaleontinus
Gonocephalus sumatranus
Bronchocela cristatella*
Aphaniotus fuscus
Draco melanopogon
Draco volans
Heosemys spinosa
Typhlops sp
Varanus dumerili
Varanus salvator
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.